A. Pengertian Pendidikan
Makna pendidikan secara sederhana dapat diartikan sebagai usaha manusia untuk membina kepribadiannya sesuai dengan nilai-nilai di dalam masyarakat dan kebudayaannya. Dengan demikian, bagaimanapun sederhananya peradaban suatu masyarakat, di dalamnya terjadi atau berlangsung suatu proses pendidikan. Karena itulah sering dinyatakan pendidikan telah ada sepanjang peradaban umat manusia. Pendidikan pada hakikatnya merupakan usaha manusia melestarikan hidupnya.
Pendidikan menurut pengertian Yunani adalah “pedagogik” yaitu ilmu menuntun anak, orang Romawi memandang pendidikan sebagai “educare”, yaitu mengeluarkan dan menuntun, tindakan merealisasikan potensi anak yang dibawa dilahirkan di dunia. Bangsa Jerman melihat pendidikan sebagai “Erzichung” yang setara dengan educare, yakni membangkitkan kekuatan terpendam atau mengaktifkan kekuatan/potensi anak. Dalam bahasa Jawa pendidikan berarti panggulawentah (pengolahan), mengolah, mengubah, kejiwaan, mematangkan perasaan, pikiran dan watak, mengubah kepribadian sang anak. Sedangkan menurut Herbart pendidikan merupakan pembentukan peserta didik kepada yang diinginkan sipendidik yang diistilahkan dengan Educere.( M.R. Kurniadi,STh;1)
Dalam kamus besar Bahasa Indonesia, pendidikan berasal dari kata dasar “didik” (mendidik), yaitu memelihara dan memberi latihan (ajaran pimpinan) mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran.[1]
Sedangkan pendidikan mempunyai pengertian proses pengubahan dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan latihan, proses perluasan, dan cara mendidik.
Ki Hajar Dewantara mengartikan pendidikan sebagai upaya untuk memajukan budi pekerti, pikiran serta jasmani anak, agar dapat memajukan kesempurnaan hidup dan menghidupkan anak yang selaras dengan alam dan masyarakatnya.
Hakikat Pendidikan dapat kita ketahui juga sesuai dengan tinjauan keilmuannya, yaitu:
1. Tinjauan Etimologis
Istilah pendidikan, menurut Carter V. Good dalam “Dictionary of Education”[2] dijelaskan sebagai berikut:
a) Pedagogy: | 1. The art, practice of profession of teaching “Seni, praktik atau profesi sebagai pengajar (pengajaran) 2. The sistematized learning or instruction concerning principles and methods of teaching and of student control and guidance; lagerly replaced by the term of education. “Ilmu yang sistematis atau pengajaran yang berhubungan dengan prinsip-prinsip dan metode-metode mengajar pengawasan dan bimbingan murid dalam arti luas diartikan dengan istilah pendidikan” |
b) Education: | 1. Proses perkembangan pribadi; 2. Proses sosial; 3. Profesional cources; 4. Seni untuk membuat dan memahami ilmu pengetahuan yang tersusun yang diwarisi/dikembangkan generasi bangsa. |
Dalam bahasa Arab pendidikan disebut Tarbiyah yang diambil dari Rabba – Yarbiiy – Tarbiyah yang bermakna memelihara , mengurus, merawat, mendidik. Dalam literatur-literatur berbahasa Arab kata Tarbiyah mempunyai bermacam macam definisi yang intinya sama mengacu pada proses pengembangan potensi yang dianugrahkan pada manusia. Definisi-definisi itu antara lain sebagai berikut:
1. Tarbiyah adalah proses pengembangan dan bimbingan jasad, akal dan jiwa yang dilakukan secara berkelanjutan sehingga mutarabbi (anak didik) bisa dewasa dan mandiri untuk hidup di tengah masyarakat. (Ath-Thabari 67) [3]
2. Tarbiyah adalah kegiatan yang disertai dengan penuh kasih sayang, kelembutan hati, perhatian bijak dan menyenangkan; tidak membosankan.( Al-Maraghi, Juz V; 34)[4]
3. Tarbiyah adalah proses yang dilakukan dengan pengaturan yang bijak dan dilaksanakan secara bertahap dari yang mudah kepada yang sulit.
4. Tarbiyah adalah mendidik anak melalui penyampaian ilmu, menggunakan metode yang mudah diterima sehingga ia dapat mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari (Fathul Bari Jilid I; 162 )[5]
5. Tarbiyah adalah kegiatan yang mencakup pengembangan, pemeliharaan, penjagaan, pengurusan, penyampaian ilmu, pemberian petunjuk, bimbingan, penyempurnaan dan perasaan memiliki terhadap anak didik. (Al-Maraghi jilid III: 79). [6]
Dalam definisi-definisi di atas tersirat unsur-unsur pembelajaran yaitu ta’lim, tadris, tahdib, ta’dib, tarbiyah dan tadrib.
2. Tinjauan Terminologis
a) Ki Hajar Dewantara mengartikan pendidikan sebagai upaya untuk memajukan budi pekerti, pikiran serta jasmani anak, agar dapat memajukan kesempurnaan hidup dan menghidupkan anak yang selaras dengan alam dan masyarakatnya. Seperti pernyataan beliau bahwa “Pendidikan umumnya berarti daya upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin, karakter),pikiran (intellect) dan tubuh anak; dalam pengertian Taman Siswa tidak boleh dipisah-pisahkan bagian-bagian itu, agar supaya kita dapat memajukan kesempurnaan hidup, yakni kehidupan dan penghidupan anak-anak yang kita didik selaras dengan dunianya“.
b) Menurut buku “Higher Education For America Democracy”: Education is an institution of civilized society, but the purposes of education are not the same in all societies, an educational system finds it‟s the guiding principles and ultimate goals in the aims and philosophy of the social order in which it functions[7] (11: 5) “pendidikan adalah suatu lembaga dalam tiap-tiap masyarakat yang beradab, tetapi tujuan pendidikan tidaklah sama dalam setiap masyarakat. Sistem pendidikan suatu masyarakat (bangsa) dan tujuan-tujuan pendidikannya didasarkan atas prinsip-prinsip (nilai) cita-cita dan filsafat yang berlaku dalam suatu masyarakat (bangsa)”.
c) Menurut Prof. Richy dalam buku “Planing for Teaching and Introduction to Education”: The term “education” refers to the broad function of preserving and inproving the life of the group through bringing new members into its shared concerns. Education is thus a far broader process thah that which accurs in schools. It is an essential social activity by which communicaties continue to exist in complex communicaties this function is specialized and institutionalized in formal education, but there is always the education outside the school with wich the formal process in related[8] (12: 489) “Istilah pendidikan berkenaan dengan fungsi yang luas dari pemeliharaan dan perbaikan kehidupan suatu bangsa (masyarakat) terutama membawa warga masyarakat yang baru (generasi muda) bagi penunaian kewajiban dan tanggung jawabnya di dalam masyarakat. Jadi pendidikan adalah suatu proses yang lebih luas daripada proses yang berlangsung di dalam sekolah saja. Pendidikan adalah suatu aktivitas sosial yang esensial yang memungkinkan masyarakat yang kompleks dan modern. Fungsi pendidikan ini mengalami proses spesialisasi dan melembaga dengan pendidikan formal, yang tetap berhubungan dengan proses pendidikan formal di luar sekolah.
d) Prof. Lodge dalam buku “Philosophy of Education”: The word “education” is used, sometimes in a wider, sometimes in a narrower, sense. In the wider sense, all experienceis said to the educative and life is education and education is life. “Perkataan pendidikan kadang-kadang dipakai dalam pengertian yang luas dan pengertian sempit. Dalam pengertian luas pendidikan adalah semua pengalaman, dapat dikatakan juga bahwa hidup adalah pendidikan atau pendidikan adalah hidup”. In the narrower sense “education is restricted to that function of the community which consists in passing in its traditions its background and its outlook to the members of the rising generation. “Pengertian pendidikan secara sempit adalah pendidikan dibatasi pada fungsi tertentu di dalam masyarakat yang terdiri atas penyerahan adat istiadat (tradisi) dengan latar belakang sosialnya, pandangan hidup masyarakat itu kepada warga masyarakat generasi berikutnya[9].
e) Menurut Brubacher dalam bukunya “Modern Philosophies of Education”: “Education should be thought of as the process of mans reciprocal adjusment to nature to his follows and to the ultimates nature of the cosmos”.“Pendidikan diartikan sebagai proses timbal balik dari setiap pribadi manusia dalam penyesuaian dirinya dengan alam, dengan teman dan alam semesta”. [10]
Education is the organized development and equipment of all the power of human being, moral, intellectual, and physical, by and for their individual and social uses, directed to word the union of these activities with their creator as their final end.“Pendidikan merupakan pula perkembangan yang terorganisasi dan kelengkapan dari semua potensi manusiawi, moral, intelektual dan jasmani oleh dan untuk kepribadian individunya serta kegunaan masyarakatnya yang diarahkan demi menghimpun semua aktivitas tersebut bagi tujuan hidupnya”.[11]
B. Fenomena Pendidikan Indonesia
Bagi orang-orang yang berkompeten terhadap bidang pendidikan akan menyadari bahwa pendidikan kita sampai saat ini masih mengalami “sakit”. Dunia pendidikan yang sakit ini disebabkan karena pendidikan yang seharusnya membuat manusia menjadi manusia, tetapi dalam kenyataannya seringkali tidak demikian. Seringkali kepribadian manusia cenderung direduksi oleh sistem pendidikan yang ada.
Masalah pertama adalah bahwa pendidikan di Indonesia menghasilkan “manusia robot”. Kami katakan demikian karena pendidikan yang diberikan ternyata berat sebelah atau tidak seimbang. Pendidikan ternyata mengorbankan keutuhan, kurang seimbang antara belajar yang berpikir (kognitif) dan perilaku belajar yang merasa (afektif). Jadi unsur integrasi cenderung semakin hilang, yang terjadi adalah disintegrasi.
Masalah kedua, sistem pendidikan yang top down (dari atas ke bawah) atau kalau menggunakan istilah Paulo Freire (tokoh pendidik Amerika Latin) adalah pendidikan gaya bank. Sistem pendidikan ini sangat tidak membebaskan bagi peserta didik, karena peserta didik dianggap sebagai manusia yang tidak tahu apa-apa.
Masalah ketiga, model pendidikan yang hanya diorientasikan kepada manusia yang dihasilkan pendidikan ini hanya siap untuk memenuhi kebutuhan zaman dan bukannya bersikap kritis terhadap zamannya.
Manusia sebagai objek (wujud dehumanisasi) merupakan fenomena yang justru bertolak-belakang dengan visi humanisasi, menyebabkan manusia tercerabut dari akar-akar budayanya. Mampukah kita menjadikan lembaga pendidikan sebagai sarana interaksi kultural untuk membentuk manusia yang sadar akan tradisi dan kebudayaan serta keberadaan masyarakatnya sekaligus juga mampu menerima dan menghargai keberadaan tradisi, dan budaya situasi masyarakat lain. Dalam hal ini, makna pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara menjadi sangat toleran untuk direnungkan. “Ing Ngarso Sung Tulodho Ing Madyo Mangun Karso Tutwuri Handayani”
C. Hakikat Pendidikan
1. Hakikat Pendidikan Secara Umum
Pendidikan merupakan transfer of knowledge, transfer of value dan transfer of culture and transfer of religius yang semoga diarahkan pada upaya untuk memanusiakan manusia.
Hakikat proses pendidikan ini sebagai upaya untuk mengubah perilaku individu atau kelompok agar memiliki nilai-nilai yang disepakati berdasarkan agama, filsafat, ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya dan pertahanan keamanan.
Menurut pandangan Paulo Freire pendidikan adalah proses pengakaderan dengan hakikat tujuannya adalah pembebasan. Hakikat pendidikan adalah kemampuan untuk mendidik diri sendiri.
Dalam konteks ajaran Islam hakikat pendidikan adalah mengembalikan nilai-nilai Illahiyah pada manusia (Fitrah) dengan bimbingan Alquran dan as-Sunnah (Hadits) sehingga menjadi manusia seutuhnya dan berakhlakul karimah (Insan Kamil)
Dengan demikian hakikat pendidikan adalah sangat ditentukan oleh nilai-nilai, motivasi dan tujuan dari pendidikan itu sendiri.Maka hakikat pendidikan dapat dirumuskan sebagi berikut :
1. Pendidikan merupakan proses interaksi manusiawi yang ditandai keseimbangan antara kedaulatan subjek didik dengan kewibawaan pendidik;
2. Pendidikan merupakan usaha penyiapan subjek didik menghadapi lingkungan yang mengalami perubahan yang semakin pesat;
3. Pendidikan meningkatkan kualitas kehidupan pribadi dan masyarakat;
4. Pendidikan berlangsung seumur hidup;Pendidikan merupakan kiat dalam menerapkan prinsip-prinsip ilmu.
2. Hakikat Pendidikan Islam
Pendidikan secara semantik menunjukkan pada suatu kegiatan atau proses yang berhubungan dengan pembinaan yang dilakukan seseorang kepada orang lain. Pengertian tersebut belum menunjukkan adanya program, sistem, dan metoda yang lazimnya digunakan dalam melakukan pendidikan atau pengajaran.
Masih dalam pengertian kebahasaan ini, dijumpai pula kata tarbiyah dalam bahasa Arab. Kata ini sering digunakan oleh para ahli pendidikan Islam untuk menerjemahkan kata pendidikan dalam bahasa Indonesia.
Selain kata tarbiyah terdapat pula kata ta’lim Kata ini oleh para penerjemah sering diartikan pengajaran. Selain kata tarbiyah terdapat pula kata ta’lim Kata ini oleh para penerjemah sering diartikan pengajaran. Dalam pengertian itu Yusuf A. Faisal, pakar dalam pendidikan mengatakan bahwa “Pengertian pendidikan islam dari sudut etimologi (ilmu akar kata) sering dikatakan istilah ta’lim dan tarbiyah yang bersal dari kata allama dan rabba yang dipergunakan dalam al-Qur‟an sekalipun kata tarbiyah lebih luas konotasinya, yaitu mengandung arti memelihara, membesarkan dan mengandung makna sekaligus mengandung makna mengajar (allama). Selanjutnya Faisal mengutip pendapat Naquib Alatas dalam bukunya Islam and Secularism sebagaimana tersebut diatas terdapat pula kata ta’dib yabg ada hubungannya dengan kata adab yang berarti sopan santun.”[12]
Selanjutnya bagaimanakah penjelasan yang diberikan al-Quran terhadap ketiga kata tersebut?. Untuk ini Muhammad Fuad Abd al-Baqy dalam bukunya Al-Mu’jam al-Mufahras li Alfadz al-Qur’an al Karim telah mengimformasikan bahwa dalam al-Qur‟an kata Tarbiyah dalam kata yang serumpum dengannya diulang sebanyak lebih dari 872 kali. Kata tersebut berakar pada rabb. Kata ini sebagaimana dijelaskan oleh al-Raghib al-Ashfahany, pada mulanya berarti al-Tarbiyah yaitu “insya’ al-Sya’i halan ila halin ila had tamam” artinya “mengembangkan atau menumbuhkan sesuatu tahap demi setahap sampai pada batas yang sempurna”. Kata selanjutnya digunakan oleh al-Qur’an untuk berbagai hal antara lain digunakan untuk menerangkan salah satu sifat atau perbuatan Tuhan, yaitu rabb al ‘alamin yang artinya Pemelihara, Pendidik, Penjaga, Penguasa dan Penjaga sekalian alam. (lihat Q.S, al-Fatihah, 1:2; al-Baqarah 2:131; al-Maidah, 5:28; al-An’am, 6:45; 71; 162 dan 164; al-Ar’af, 7:54; dan seterusnya).
Selain kata rabb digunakan untuk arti sebagaimana disebut diatas, digunakan pula untuk arti yang obyeknya lebih terperinci lagi, yakni bahwa yang dipelihara, dididik dan seterusnya ada yang berupa al-arsyy al azhim, yakni arsy yang demikian besar (Lihat Q.S 9:129), al-Masyaariw yakni ufuk timur tempat terbitnya matahari (Q.S 37:5), aba’ukum al-awwalun yakni nenek moyang para pendahulu orang kafir Quraisy (Q.S 37:126), al-Maghrib ufuk barat tempat terbenamnya matahari (Q.S 55:17), al-Baldah yakni negeri dalam hal ini adalah Makkah al-Mukarramah (Q.S 2:126), Bait yakni rumah yang dalam hal ini adalah Baitullah, Kabah yang ada di Makkah.
Beberapa ayat tersebut diatas menunjukan dengan jelas, bahwa kata rabb sebagaimana yang ditunjukan pada al-Quran ternyata digunakan untuk menunjukan obyek yang bermacam-macam, yang dalam ini meliputi benda-benda yang bersifat fisik dan non fisik. Dengan demikian pendidikan meliputi pemeliharaan terhadap seluruh mahluk Tuhan.
Adapun kata yang kedua, dalam hal ini ‘allama sebagaimana dijelaskan oleh al-Raghib al-Ashfahany, digunakan secara khusus untuk menunjukan sesuatu yang dapat diulang dan diperbanyak sehingga meninggalkan bekas atau pengaruh pada diri seseorang dan ada pula yang mengatakan bahwa kata tersebut digunakan untuk mengingatkan jiwa agar memperoleh gambaan mengenai arti tentang sesuatu, dan kadang kata tersebut juga dapa diartikan pemberitahuan.
Kata ta’lim yang berakar pada kata ‘allama dengan berbagai akar kata yang serumpum dengannya dalam al-Quran disebut sebanyak lebih dari 840 kali dan digunakan untuk arti berbagai macam. Terkadang oleh Allah digunakan untuk menjelaskan pengetahuan-Nya yang diberikan kepada manusia (Lihat Q.S 2:269), digunakan untuk menjelaskan bahwa Allah maha mengetahui terhadap segala sesuatu yang terjadi pada manusia (Lihat Q.S 11:79) digunakan untuk menjelaskan bahwa Allah mengetahui orang-orang yang mengikuti petunjuknya. (Q.S 2:143). Dari informasi ini terlihat bahwa kata ta’lim dalam al-Quran mengacu pada adanya sesuatu berupa pengetahuan yang diberikan kepada seseorang. jadi sifatnya intelektual. Sedangkan kata tarbiyah lebih mengacu pada bimbingan, pemeliharaan, arahan, penjagaan, dan sifatnya pembentukan kepribadian.
Adapun mengenai ta’dib yang berakar pada kata addba tidak dijumpai dalam al-Quran. Kata tersebut dijumpai dalam hadist antara lain ang berbunyi: “addabani rabby fa ahsana ta’diby”, artinya : “Tuhanku telah mendidikku dan telah membuat pendidikanku sebaik-baiknya”.
Dalam pembahasan selanjutnya dijumpai perbedaan pendapat dikalangan para ahli menengenai pemakaian kata tersebut dalam hubungannya dengan pendidikan. Abdurrahman al-Nahlawi, misalnya lebih cenderung menggunakan kata tarbiyah untuk kata pendidikan. Ia lebih lanjut mengatakan bahwa kata tarbiyah berasal dari tiga kata, yaitu pertama dari kata rabba , yarbu, yang berarti bertambah dan bertumbuh, karena pendidikan mengandung misi untuk menambah bekal pengetahuan kepada anak didik dan menumbuhkan potensi yang dimilikinya; kedua dari kata rabbya, yarba, yang beararti menjadi besar, karena pendidikan juga mengandung arti untuk membesarkan jiwa dan memperluas wawasan seseorang, dan ketiga dari kata rabba yarubbu yang berarti memperbaiki, menguasai urusan, menuntun, menjaga, dan memelihara sebagaimana telah dijelaskan diatas.
Kemudian Naqwib al-Attas berpendapat bahwa:” kata yang paling tepat untuk mewakili kata pendidikan adalah kata ta’dib. Sementara istilah tarbiyah dinilainya terlalu luas yakni mencakup pendidikan untuk hewan, tumbuhan dan sebagainya. Sedangkan kata ta’dib sasaran pendidikannya adalah manusia.”[13]
Berbeda dengan kedua pendapat diatas, Abdul Fattah Jalal berpendapat bahwa istilah yang lebih komprehensip untuk mewakili istilah pendidikan adalah istilah ta’lim Menurutnya istilah yang terakhir ini (ta’lim) justru lebih universal dibanding dengan istilah tarbiyah. Untuk ini Jalal mengajukan alasan, bahwa kata ta’lim berhubungan dengan pemberian bekal pengetahuan. Pengetahuan ini dalam islam dinilai sesuatu yang dimiliki kedudukan yang tinggi. Hal ini misalnya dapat dijelaskan melalui kasus Nabi Adam yang yang diberi pengajaran (ta’lim) oleh Allah. Dengan sebab ini, para malaikat bersujud (menghormati) Nabi Adam lihat Q.S Al-Baqarah.
Uraian diatas dapat memperlihatkan dengan jelas bahwa dikalangan para ahli pendidikan sendiri masih belum terdapat kesepakatan mengenai penggunaan dari ketiga istilah tersebut untuk mewakili kata pendidikan. Untuk menghindari pembicaraan berkepanjangan yang dasarnya hanya pemainan kosa kata, maka Konferensi Internasional pendidikan Islam pertama (First World Conferention Muslim Education) yang diselenggarakan oleh Universitas King Abdul Azis, Jeddah, pada tahun 1977, belum berhasil merumuskan secara jelas tentang definisi pendidikan, khususnya menurut Islam. Dalam bagian rekomendasi konferensi tersebut, para peserta membuat kesimpulan bahwa pengertian pendidikan menurut islam adalah keseluruhan pengertian yang terkandung didalam ketiga istilah tersebut.
Namun demikian, ketiga istilah tersebut sebenarnya memberi kesan bahwa antara satu dan yang lainnya berbeda-beda. Istilah ta’lim mengesankan memberikan proses pemberian bekal pengetahuan. Sedangkan istilah tarbiyah, mengesankan proses pembinaan dan pengarahan bagi pembentukan tingkah laku dan kepribadian. Sementara istilah ta’dib mengesankan proses pembinaan dan pengarahan bagi pembentukan kepribadian dan sikap mental, sehingga istilah ta’dib sering dirujukkan pada proses pembinaan terhadap sikap moral dan estetika dalam kehidupan yang lebih mengacu pada peningkatan martabat manusia.
BAB III
KESIMPULAN
Hakikat pendidikan adalah upaya sadar untuk mengembangkan potensi yang dianugerahkan tuhan kepada manusia dan diarahkan pada tujuan yang diharapkan agar memanusiakan manusia atau menjadikannya sebagai insan kamil, manusia utuh atau kaffah.
Hakikat pendidikan ini dapat terwujud melalui proses pengajaran, pembelajaran (ta’lim dan tadris), pembersihan dan pembiasaan (tahdzib dan ta`dib), dan tadrib (latihan) dengan memperhatikan kompetensi-kompetensi pedagogi berupa profesi, kepribadian dan sosial.
Pendidikan menumbuhkan budi pekerti, kekuatan batin , karakter, pikiran dan tubuh peserta didik yang dilakukan secara integral tanpa dipisah-pisahkan antara ranah-ranah tersebut.
Daftar Pustaka
Drost, J. Mengajar adalah Mendidik. Kompas, 2 Mei 1998.
Freire, Paulo. (1985). Pendidikan Kaum Tertindas. LP3ES: Yogyakarta
Lloyd Yen, Yudith.(2002). Teaching in Mind How Teacher Thingking Shapes Education. Hamilton
Orr, David. (1996). What Is Education For?. Context Institute.
Suryadi, Didi. (2006). Upaya Meningkatkan Keprofesionalan Guru melalui Lesson Study. Makalah, tidak diterbitkan.
Syamsudin, Abin. (2004). Kebutuhan Penelitian di Bidang Ilmu Pendidikan. Makalah, tidak diterbitkan.
Nata Abuddin Prof.Dr.(2005) Filsafat Pendidikan Islam ;Gaya Media Pratama Jakarta
Ath-Thabari, Abu Ja‟far Muhamad Ibnu Jarir, Jami’ul-bayan at-ta’wil a’yil-Quran, Beirut: Darul-Fikr, 1988.
Al-Maraghi, Ahmad Musthafa, Tafsirul Maraghiy, Beirut: Darul Fkr,1871.
Al-Asqalani, Ahmad ibn A’ly ibnu Hajar, Fathu’l-Bari biSyarh Shahih’l Bukhari, Bairut Daru’l –Maarif, tt.
The Internet http.www.Wikipedia .Pendidikan com.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar